
Sumber: CNN Indonesia. https://youtu.be/ub-WnObeG8E?si=5bsmlCnxVYnZK85a. 2026
Pada 5 sampai 10 Januari 2026 di Jakarta, Sekolah Seniman Pangan dengan dukungan The Asia Foundation menyelenggarakan Pelatihan Idea to Market Pengembangan Produk dan Pop Up Gastronomi. Kegiatan ini dirancang sebagai upaya peningkatan kapasitas Kelompok Usaha Perhutanan Sosial yang dipimpin oleh perempuan agar mampu mengolah dan memasarkan produk berbasis Hasil Hutan Bukan Kayu ke pasar artisan dan pasar khusus yang bernilai tambah tinggi.
Desa dampingan PINUS yaitu Desa Tanjung Agung, Desa Kota Padang, dan Desa Penyandingan di Sumatera Selatan berpartisipasi aktif dalam rangkaian pelatihan intensif selama enam hari. Pelatihan ini menggunakan pendekatan aplikatif dengan komposisi tujuh puluh persen praktik dan tiga puluh persen teori. Materi yang diberikan mencakup pemilihan bahan baku dari desa, teknik pengolahan, penataan sajian, penyampaian narasi pangan kepada pasar, hingga gastronomi berbasis budaya lokal. Seluruh modul dirancang untuk meningkatkan daya saing produk sekaligus memperkuat kesiapan perempuan pengelola KUPS dalam mengakses pasar secara mandiri.
Sebagai bagian dari proses pembelajaran berbasis praktik, peserta menyajikan jamuan gastronomi yang mengangkat pangan lokal hasil hutan dan pertanian desa. Beragam menu diperkenalkan, antara lain kue jambu hutan, bumbu dan sambal terong Belanda, brengkes tempoyak, serta nasi jamur grigit. Olahan ini merepresentasikan kekayaan biodiversitas lokal sekaligus menunjukkan potensi Hasil Hutan Bukan Kayu sebagai sumber ekonomi berkelanjutan yang dikelola oleh perempuan.
Puncak kegiatan ditandai dengan penyelenggaraan Puan Rimba Pop Up Market di Javara Kemang. Ruang ini berfungsi sebagai sarana uji pasar dan promosi produk sekaligus ruang belajar langsung bagi perempuan penjaga hutan dalam merancang, mengelola, dan mempresentasikan produk secara mandiri.
Di ruang inilah imajinasi tentang hutan dipertemukan dengan realitas kota. Aroma tanah hutan yang basah dan kesegaran buah liar dari pedalaman Sumatera seolah hadir di tengah riuh Jakarta. Selama ini, menjaga hutan kerap dipahami sebagai upaya memisahkan manusia dari alam. Puan Rimba justru menawarkan narasi sebaliknya, bahwa hutan dapat tetap terjaga ketika masyarakatnya berdaya melalui rasa, pengetahuan, dan kerja kolektif yang berakar pada ruang hidup mereka.

Melalui program Women Forest Defenders, kita diingatkan bahwa perempuan adalah perpustakaan hidup bagi ekosistemnya. Dalam setiap sajian brengkes tempoyak atau nasi jamur yang mereka hadirkan, tersimpan pengetahuan biologis dan kultural yang diwariskan lintas generasi. Keterlibatan perempuan dalam ekonomi perhutanan sosial bukan semata soal menambah pendapatan keluarga, melainkan tentang kedaulatan atas pengetahuan dan sumber daya. Sebagai penjaga pengetahuan tradisional, mereka memastikan kekayaan hayati hutan tetap dihargai dan tidak punah ditelan zaman, sekaligus menjadi benteng pertahanan terakhir agar ekonomi desa tetap berakar pada kearifan lokal.
