Mendorong Pendanaan Ekologis: PINUS Indonesia membawa Cerita Tukamasea & Wisata Dolli Curi Perhatian Media Asia Tenggara 

Berangkat dari rekam jejak transformasi lokal dan keberhasilan tata kelola berbasis ekologi, cerita sukses Desa Tukamasea kini menjadi sorotan di tingkat internasional. Model pariwisata berbasis masyarakat di Desa Tukamasea, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan yang dikenal dengan destinasi Wisata Dolli Bungaeja mendapat apresiasi luas dari berbagai media terkemuka di Asia Tenggara. Berdasarkan laporan liputan media (Coverage Report) yang disusun atas kerja sama dengan PRecious Communications periode Juni 2026, kisah sukses pemberdayaan masyarakat lokal ini berhasil meraih 24 publikasi media internasional, dengan Total Jangkauan Pembaca 1.2 Juta+

Publikasi dari media internasional tersebut memberikan apresiasi besar terhadap keterlibatan dan peran warga desa. Sorotan utama dari media regional tersebut tertuju pada bagaimana masyarakat Desa Tukamasea mengelola potensi kawasan karst dan sumber air Dolli secara mandiri dan berkelanjutan. Lebih dari sekadar destinasi liburan, pariwisata Tukamasea dinilai berhasil mengintegrasikan kepemimpinan perempuan (women-led ecotourism) serta keterlibatan pemuda dalam menjaga kelestarian alam dan menggerakkan ekonomi restoratif desa.

Luasnya jangkauan apresiasi ini tercermin secara jelas dari sebaran media internasional yang meliput apa yang terjadi di Desa Tukamasea di tiga pasar utama Asia Tenggara. Di Malaysia, media arus utama (Tier 1 & Tier 3) seperti The Borneo Post melalui edisi cetak, online, dan media sosialnya bersama Gaya Travel menyoroti pembangunan ekonomi restoratif melalui ekowisata serta kepemimpinan perempuan. Sementara itu, publikasi di Filipina tersebar masif melintasi media Tier 1, Tier 2, hingga Tier 3 termasuk LionhearTV, Astig PH, TeamPCheng, dan Pinay Ads yang berfokus pada pemulihan alam dan pemberdayaan komunitas melalui ekowisata berbasis perempuan (Women-Led Ecotourism). Tidak ketinggalan, barisan media Tier 1 dan Tier 2 di Thailand, seperti RYT9, ThaiQuest, Thailand4, Newswit, dan ThaiPR, menempatkan perempuan sebagai jantung perubahan dalam mendorong wisata alam desa di Tukamasea.

Profil Lokasi, Latar Belakang, dan Peran Pendampingan PINUS

Desa Tukamasea di Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, memiliki potensi bentang alam karst dan sumber air alami yang melimpah namun rentan. Kondisi ini membutuhkan tata kelola seimbang antara kelestarian lingkungan dan pengembangan ekonomi warga.

Selama 2021–2024, PINUS Sulawesi Selatan memberikan pendampingan dengan memfasilitasi kolaborasi lintas stakeholder mulai dari Pemerintah Desa Tukamasea, Pemkab Maros, kelompok perempuan, pemuda, hingga motor penggerak di tingkat tapak, yaitu KBA Tukamasea (Kelompok Baca Anggaran) untuk mendorong tata kelola desa yang transparan, inklusif, dan ramah lingkungan melalui pendanaan ekologis serta kepemimpinan perempuan. Penerima manfaat utama program ini meliputi kelompok rentan, perempuan, pemuda, dan masyarakat umum yang merasakan dampak ekonomi restoratif serta perbaikan layanan publik. Kesadaran kritis warga diperkuat secara konsisten oleh Pendampingan PINUS Sulawesi Selatan agar masyarakat mampu mengawal dokumen perencanaan (RPJMDes, RKPDes, APBDes) berbasis ekologi, sekaligus memanfaatkan peluang skema Transfer Anggaran Kabupaten Berbasis Ekologis (TAKE) sebagai insentif kinerja lingkungan.

Dukungan Anggaran Ekologis & Dampak Nyata

Berbagai upaya pengawasan dan tata kelola anggaran yang inklusif ini pada akhirnya membuahkan hasil konkret. Komitmen bersama ini menghasilkan alokasi anggaran nyata bagi pembangunan berkelanjutan dimanapada tahun 2022, Desa Tukamasea mengalokasikan Rp 200 juta dari Dana Desa untuk mendukung pembangunan ramah lingkungan, salah satunya adalah pengembangan kawasan pemandian Dolli Bungaeja. Dukungan tambahan datang dari Transfer Anggaran Kabupaten Berbasis Ekologi (TAKE) sejumlah Rp 110 juta pada tahun 2022 dan Rp 62 juta pada tahun 2023, yang dipergunakan untuk memperbaiki akses jalan, membangun jembatan, serta mempercantik kawasan wisata.

Melalui proses pendampingan intensif tersebut, perubahan nyata mulai terlihat di tingkat pemerintahan desa yang mana pemerintah desa lebih transparan, termasuk mempublikasikan APBDes dan melakukan revisi alokasi anggaran agar lebih berpihak pada kelompok rentan, perempuan, serta pembangunan yang ramah lingkungan. Pada tahun anggaran 2024, KBA turut mengawal indikator berbasis ekologi dan gender dalam perencanaan desa. Dampak positif pembangunan kawasan ekowisata ini tidak berhenti pada pembenahan fisik semata, melainkan merembet langsung ke sektor sosial dan pemenuhan hak dasar warga. Selain pembenahan fisik kawasan ekowisata, KBA Tukamasea juga mampu mendorong agar Pendapatan Asli Desa (PADes) di sektor pariwisata dialokasikan untuk beasiswa pendidikan warga. Hasilnya sangat nyata: sejak tahun 2021 hingga 2024, sebanyak 240 anak dari keluarga kurang mampu berhasil menerima bantuan pendidikan, menjadikan akses sekolah bukan lagi sekadar impian, melainkan kenyataan yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

Penulis: Sinta Meilia & Oke Indrayana Trianto

× Hubungi Kami Untuk Pemesanan